Like This, Oke !!

Bewara

Hadirilah....
DISKUSI KEBANGSAAN JILID II "Momentum Hari Pahlawan, Upaya Membangun Bandung Berdikari"
Pembicara :
1. Drs. H. Asep Dedy Ruyadi, M.Si (Wakil Ketua DPRD KOTA BANDUNG)
2. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si (Ketua DPD KNPI KOTA BANDUNG)
3. Ust. Iman Setiawan Latief, SH (Ketua PD PERSIS KOTA BANDUNG)
4. Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Kota Bandung
Jum'at, 16 November 2012
13.00-selesai
@AULA PP PERSIS (Jl. Perintis Kemerdekaan)

Graties dan terbuka untuk umum!!

KOpi gratis, Snack Gratis, dll

Organized BY
PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG
CP:085721502422

Senin, 11 Juli 2011

Sandiwara Cinta Di Era Digital

oleh Ridwan Sangkakala pada 09 Juli 2011 jam 15:01

“kau cinta aku, bukan?” seorang gadis bertanya kepada sang pacar. ‘jelas, aku sayang kamu. Lho, ko nanya gitu?’ ujar sang pacar. “ndak, aku Cuma pengen mastiin aja, kalo kamu beneran sayang ma aku.” Balik sang cewek. ‘swear, aku beneran sayang ma kamu. Kalo gak percaya belah aja dadaku’. Balas sang pacar sembari mengeluarkan jurus klasik di dunia percintaan yang udah usang. Basi.


Dialog di atas berlangsung melalui perangkat mobile phone yang tak asing lagi. Memang, teknologi memudahkan segalanya. Segala sesuatu tinggal pijit nomor dan dengan sendirinya kita bisa dapatkan dengan mudah apa yang kita inginkan. Gadget-gadget yang diciptakan para punggawa zaman dewasa ini begitu variatif. Kita tinggal memilih perangkat teknologi seperti apa yang kita inginkan untuk melangsungkan aktivitas kita. Demikian.

Di dunia yang serba praktis ini, memungkinkan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh para leluhur kita. Dulu, untuk sekedar bertemu sanak saudara di kampung halaman, orang harus cuti kerja beberapa saat lantas bertemu setelah melalui beragam transporatasi pilihan. Segalanya harus dilakukan melalui perpindahan fisik (move by physic ly). Tidak begitu saja kita bisa sekedar bertatap muka dengan orang terkasih kita. Tapi sekarang, dengan beragam feature teknologi yang ditawarkan orang dengan mudah untuk sekedar ‘say hello’ atau malah ingin bertatap muka. Mobile phone, web video atau perangkat teknologi lainnya disertai dengan fasilitas yang dapat memudahkan kita melangsungkan apa yang kita inginkan. Memudahkan segalanya.

Begitupun, ketika disudutkan dengan dunia percintaan. Sepasang kekasih dengan mudahnya menyatakan rasa cinta, sayang dan rindunya via telepon. Sekedar melangsungkan hasrat biologis dan psikologis yang mengendap dalam jiwa. Untuk merasakan belaian bibir manis sang kasih, orang cukup berkata ‘muach’, timbul kenyamanan dan kenikmatan tersendiri. Dengan begitu teknologi menjadi instrument penyelamat hasrat yang terpendam. Bukankah demikian? Dua manusia yang sebelumnya belum mengenal, dengan dalih dapet nomor baru dari temen terus saling berkomunikasi bisa saja melangsungkan pernikahan atau sekedar berkomitmen satu sama lain. Betapa media menggubris ranah-ranah privacy (dalam hal ini kesadaran) yang dulu belum mampu tersentuh secara fisik. Inilah yang kemudian dinamakan ‘pesan manipulative atau dengan kata lain simulasi’ dalam pandangan Jean baudrillard.

Dalam pandangannya, baudrillard berujar bahwa “dewasa ini media dan sahabatnya teknologi memberikan pesan-pesan yang tak terbatas. Dengan mudah menyentuh ruang privacy manusia namun tetap pesan yang disampaikan hanyalah omong kosong dan menimbulkan kehampaan belaka”. Boleh jadi, rasa cinta yang kita ungkapkan melalui mobile phone bukan berasal dari dalam jiwa, hanya kehendak yang sudah lama terpendam, kemudian dialihkan melalui perangkat teknologi supaya menimbulkan kepuasan bagi lawan kita.dan jaminan baudrillard ialah bahwa hal itu sekedar luapan kosong, sebuah sandiwara yang bersifat manipulatif. Atau dalam bahasa supratikna bahwa komunikasi yang dijalankan melalui parantaraan media (mediated) jelas menimbulkan ketumpangtindihan dalam proses penyadaran dirinya sebagai manusia, yakni antara kebutuhan yang terus berkehendak dan kebohongan yang timbul karena keterasingan media tersebut.

Layakkah makna cinta diumbar sedemikian mudahnya melalui perangkat teknologi yang tiada lain hanya menimbulkan alienasi dalam diri? Jelas, tidak demikian. Cinta adalah sumber kehidupan, begitulah ujar Pramoedya ananta toer. Cinta berwujud alam semesta. Cinta bukan sekedar menghasutkan hasrat yang terus dan terus meluap. Cinta bukan sekedar berkata C.I.N.T.A. lebih jauh cinta adalah makna. Marcel berasumsi bahwa dalam mengawali segenap kehidupan ini (termasuk cinta didalamnya) harus diawali dengan sebuah rasa kagum, kekaguman (Admiration). Rasa kagum ini menimbulkan tanda Tanya. Kepenasaran dan lantas menimbulkan reflection (permenungan dalam diri) sampai pada akhirnya rasa itu menjadi potensi untuk terus berkembang dan ber-eksplorasi mewujud menjadi beragam bentuk dan fungsi (exploration).

Cinta bukan sekedar kesepakatan dari sebuah sistem kehidupan yang final dan berakhir dalam satu ketetapan . Lebih jauh cinta menimbulkan relasi intersubjektif dan intertextualitas. Cinta adalah makna baru dan akan terus baru. Berkembang hingga sesuai dengan apa yang orang inginkan. “aku punya kuasa terhadap cinta’ dan ‘ aku mengakui, kamu pun demikian’.

Akhirnya, melalui perangkat media ini, ‘aku sampaikan rasa cinta ini yang tak berkesudahan. Sampai kapanpun. Sampai kau mau. Sampai kau yakin. Bahwa cinta bukan sekedar memiliki. Lebih jauh mengakhiri dengan keindahan dalam kebersamaan’.


2 komentar: