Like This, Oke !!

Bewara

Hadirilah....
DISKUSI KEBANGSAAN JILID II "Momentum Hari Pahlawan, Upaya Membangun Bandung Berdikari"
Pembicara :
1. Drs. H. Asep Dedy Ruyadi, M.Si (Wakil Ketua DPRD KOTA BANDUNG)
2. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si (Ketua DPD KNPI KOTA BANDUNG)
3. Ust. Iman Setiawan Latief, SH (Ketua PD PERSIS KOTA BANDUNG)
4. Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Kota Bandung
Jum'at, 16 November 2012
13.00-selesai
@AULA PP PERSIS (Jl. Perintis Kemerdekaan)

Graties dan terbuka untuk umum!!

KOpi gratis, Snack Gratis, dll

Organized BY
PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG
CP:085721502422

Kamis, 04 Agustus 2011

Dehumanisasi Era Digital*

oleh Shizunda Ijund pada 04 Agustus 2011 jam 21:03


Dehumanisasi, sebuah kata yang begitu kontras dengan “Humanisasi”, memang sebuah kata yang ditambah awalan “de” di awalnya akan berubah jauh dari arti kata pertama. Konstruksi artinya membangun, sedangkan de+konstruksi=dekonstruksi artinya merusak. Jelas ini pun berlaku pada kata dehumanisasi yang berarti lunturnya nilai-nilai kemanusiaan.


Dehumanisasi merupakan implikasi dari modernitas. Dalam era digital ini, manusia dalam genggaman teknologi. Dari mulai bangun tidur hingga kembali merebahkan diri, manusia tak lepas dari aktivitas menggunakan perangkat digital. Koneksi tanpa batas didapat dari ponsel canggih, USB modem, berhotspot ria, ataupun berjibaku seharian depan internet dan televisi. Bukan main implikasi dari teknologi ini, dan pada akhirnya efek dahsyatnya adalah sebuah dehumanisasi bagi mereka yang telah melunturkan nilai-nilai kemanusiaan, atau dalam Islam, menanggalkan fitrah sebagai insan di hadapan Rabbnya, karena tidak memiliki perisai keimanan yang kokoh dan tenggelam dalam hawa nafsu yang hina.

Babak baru dehumanisasi dapat dilihat dari massifnya budaya konsumtif masyarakat yang merupakan permainan kaum kapitalis, mempermainkan selera masyarakat dengan gencarnya berbagai produk mulai dari kosmetik, makanan-minuman, perangkat teknologi, sampai perkakas rumah tangga. Dan yang lebih ironis yang sringkali menjadi sasaran kaum kapitalis ini adalah kaum perempuan, betapa perawaran tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala diatur sedemikian rupa oleh para pemilik media.

Selain itu, implikasi yang mencengangkan adalah sudah pudarnya nilai guna suatu benda bagi manusia, yang ada hanyalah kepentingan nilai tanda atau “bungkus” demi meningkatkan prestise. Blackberry mungkin bagi seorang ibu rumah tangga tidak begitu penting, namun demi terlihat mewah dan high class, dipakailah Blackberry sebagai benda yang dianggap mengangkat derajat si pemiliknya. Jelas ini sungguh ironis, betapa manusia era digital ini mengangkat martabatnya bukan mengasah potensi dari dalam jiwa, namun dengan faktor luar yang hanya sekedar bungkus dan semu semata. Hawa nafsu menuntut untuk lebih memiliki segala sesuatu yang diinginkan melebihi kemampuan dan kebutuhan yang sebenarnya, jika tuntutan ini tak dikendalikan dengan benteng keimanan, yang terjadi adalah sikap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang diinginkan. Hal ini bisa menjadi indikator, betapa kriminalitas semakin meningkat di tengah majunya perkembangan teknologi.

Sesungguhnya sudah semestinya manusia tidak hanya mengandalkan penampilan jasadnya saja, sedangkan ruh dan akal dibiarkan membusuk tanpa bimbingan ruhiyahnya. “Mana karya, Lo, jangan Cuma gaya!” Manusia sejatinya mengoptimalkan tiga aspek dalam dirinya, yaitu ruh, akal, dan jasad. Manusia yang hanya memperhatikan kebutuhan jasadnya, hanya sibuk memikirkan urusan perut bahkan mengumbar nafsu syahwat tanpa kendali ibarat binatang yang bisa berbicara. Sungguh merugi mereka yang hanya hidup dengan prinsip “daging oriented”, segala-galanya hanya bungkus yang takan pernah abadi. Jasad ini pun tak lama lagi pasti hancur dimakan ulat dan belatung ketika ruh sudah berada dalam genggamanNya. Lalu, apalagi yang pantas kita banggakan?

“Maka pernahkah kamu melihat orang yg menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yg akan memberinya petunjuk sesudah Allah . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah:23)

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling darikebanggaan itu. (QS. Al-Mu’minuun 23:71)



*)Kajian Gabungan PK. Hima-Himi Persis UIN SGD Bandung

Selasa, 21 Juni 2011

Ba’da Ashar @Mesjid Ikomah UINSGD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar