Like This, Oke !!

Bewara

Hadirilah....
DISKUSI KEBANGSAAN JILID II "Momentum Hari Pahlawan, Upaya Membangun Bandung Berdikari"
Pembicara :
1. Drs. H. Asep Dedy Ruyadi, M.Si (Wakil Ketua DPRD KOTA BANDUNG)
2. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si (Ketua DPD KNPI KOTA BANDUNG)
3. Ust. Iman Setiawan Latief, SH (Ketua PD PERSIS KOTA BANDUNG)
4. Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Kota Bandung
Jum'at, 16 November 2012
13.00-selesai
@AULA PP PERSIS (Jl. Perintis Kemerdekaan)

Graties dan terbuka untuk umum!!

KOpi gratis, Snack Gratis, dll

Organized BY
PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG
CP:085721502422

Kamis, 15 September 2011

Semangat Bandung Belum Mati*


Orang tentu bertanya kenapa seri tulisan tentang Konperensi A-A 25 tahun yang lalu di Kota Bandung saya beri judul : “The Bandung Connection”.

Tiap penggemar film tegang tentu mengenal film: “The French Connection”, suatu ceritera penyelundupan narkotika oleh penyelundup-penyelundup caliber besar di Kota New York, di mana tersangkut beberapa pejabat polisi New York, kesemuanya mempunyai koneksi (connection) dengan dunia diplomatic Perancis , yang ternyata menjadi dalangnya dari segala penyelundupan itu. Itulah sebabnya kenapa film tegang ini diberi nama: “The French Connection”.


Saya melihat film “The French Connection” itu untuk pertama kalinya di Melbourne, Australia, pertengahan tahun 1972, dan untuk kedua kalinya di Amsterdam, Negeri Belanda, dalam musim semi tahun 1973. Ada daya tarik yang kuat dari film ini terhadap diri saya. Pertama-tama karena banyak sekali lokasi yang dipertunjukan dalam film ini saya kenal dengan baik. Upama saja adegan-adegan “Kongkow” antara para penyelundup dan polisi di hotel “Westbury” di Madison Avenue, 68th Street, New York, benar-benar hidup dalam imajinasi saya. Sebab saya pernah menginap selama 3 bulan di hotel tersebut pada bulan-bulan Oktober-Desember 1966 sewaktu mengantarkan kembali Indonesia ke PBB. Demikian juga dengan incar mengincar antara polisi dan penyelundup di sepanjang Madison Avenue antara 68th sampai 62th Street benar-benar “hidup“ dalam alam pikiran saya. Saya kebnal tiap took dan tiap pojok sepanjang jalan itu, karena hamper setiap hari saya berjalan di situ, sehari sampai 2-3 kali selama 4 tahun. Sebabnya ialah karena “rumah dinas” Duta Besar RI di PBB pada tahun 1967-1971 adalah di salah satu appartemen gedung kuno bertingkat 16 di pojok Madison Avenuedan 66th Street. Tepatnya rumah dinas saya selaku Dubes di PBB di New York adalah 45 East , 66th Street, Apt5 2W. demikian juga adegan-adegan muslihat para komplotan di stasiun “Grand Central Station” dari subway atau kereta api di bawah-tanah, kejar-kejaran mobil yang menahan nafas para penonton di bawah viaduct kereta api sekitar Harlem, tembak-menembak di jembatan Brooklyn, semua itu: membedah ingatan saya kepada kota metropolitan New York yang saya kenal selama 4 tahun bermukim di sana.

Ketegangan-ketegangannya serta serta unsure-unsur surprise dengan klimaks terbongkarnya hubungan komplotan dengan dunia diplomatic Perancis dalam film “The French Connection” ini membongkar nostalgia saya kepada Kota Bandung pada tahun 1955. Kota Parahiyangan dan Kota Perjuangan. Kota “Lautan Api”, di mana saya dalam usia 40-tahunan ikut menjadi sekedar pengangkut-pengangkut batu, de sjouwer der stenen, dalam membantu generasi yang lebih tua dari saya yang sedang menjalankan dharma-bhakti sejarahnya sebagai “pembangun-pembangun candi”, yaitu de bouwer der temple dari Konperensi Bandung.

Kesibukan-kesibukan yang luar biasa pada waktu itu, kesulitan-kesulitan teknis dan politis yang tertimbun-timbundan yang memerlukan pemecahan dengan segera, surprise yang tak terhitungkan lebih dulu, kesemuanya itu seringkali menimbulkan ketegangan yang luar biasa tidak hanya dalam diri pribadi saya, tetapi juga dalam staf Sekretariat Konperensi yang saya pimpin, sampai-sampai juga ketegangan-ketegangan itu merembes ke kalangan Pemerintah Indonesia sendiri dan para Negara sponsornya. Dan ingatan kepada ketegangan-ketegangan di sekitar Konperensi Bandung itulah bangkit kembali sewaktu saya melihat film “The French Connection” tersebut, dengan rasa dan intensitas yang mirip sama.

Bagi saya kota Bandung 25 tahun yang lalu jelas menampakan diri sebagai, “kota penghubung”, “pusat koneksi” atau center of connection dari Negara-negara dan rakyat-rakyat Asia-Afrika dalam menyusun barisan kesetiakawanannya. Bandung pada waktu itu tidak hanya berfungsi sebagai “center of connection between Governments” antar pemerintah, tetapi juga menjadi pusat penghubung antara pejuang-pejuang Asia-Afrika. Utusan-utusan yang dapat meloloskan diri dari kepungan dan belenggu penjajahan di Afrika Selatan dan Afrika Tengah; pelarian-pelarian politik dari Aljazair, Maroko, Tunisia; pejuang-pejuang pengembara dari Palestina; pembangkit-pembangkit hati-nurani rakyat negro berkulit hitam dari Amerika; kaum intelek dari semenanjung Malaya yang pada waktu itu belum merdeka; pokonya semua “penyelundup semangat kemerdekaan”, “penyelundup” di mata kaum kolonialis dan kaum imperialis dan bukan penyelundup narkotika dari benua-benua lain, datang bertemu di Bandung. Bandung tidak hanya tempat berteduh bagi mereka, tetapi juga tempat pemberi inspirasi baru dan kekuatan baru bagi mereka. Bandung berfungsi juga sebagai “dalang”dalam kelanjutan proses sejarah kebangkitan bangsa-bangsa yang masih dijajah.

Itulah sebabnya, maka saya menggunakan judul “The Bandung Connection” untuk seri karangan ini. Tidak dalam arti merendahkan, juga tidak dalam arti seakan-akan menyamakan keseluruhan jalannya Konperensi A-A dengan ceritera film “The French Connection” tersebut. Melainkan dalam arti kata yang berbeda, baik dalam nilai-nilai moralnya, sama-sama kata-katanya, sama-sama intensitas ketegangannya, tetapi tidak sama nilai dan moralnya !

***

Adakalanya tertangkap suara-suara sinis mengatakan, bahwa Konperensi Bandung tak pernah mempunyai arti sejarah yang besar. Ada lagi yang mengakui nilai sejarah Konperensi Bandung itu, tetapi menganggap bahwa semangatnya kemudian sudah mati.

Bahwasannya semangat Bandung itu mengalami pasang naik dan pasang surut adalah benar. Dan wajar ! karena dalam perkembangan sejarah dunia tak pernah ada nilai-nilai Internasionalisme yang dapat terus langgeng menanjak. Selalu ada gelombang silih berganti naik-turun, dan selalu ada siklus yang berputaran. Itu hokum peredaran sejarah dan peredaran zaman. Demikian juga dengan semangat Bandung. Tetapi untuk begitu saja, apalagi dengan suara sinis, mengatakan bahwa Semangat Bandung tidak mempunyai arti sejarah atau kini sudah mati sama sekali, adalah suatu kualifikasi yang tak beralasan. Ia berlebih-lebihan keluar batas kenyataan, dan tidak sesuai dengan realitasnya.

Umum tentu masih ingat bahwa Joint-statement Nixon-Chou En Lai dan Nixon-Breznev pada tahun 1972 menggunakan istilah-istilah dari prinsip-prinsip Konperensi Bandung. Dengan jelas dinyatakan dalam kedua Joint Statement tersebut, bahwa peaceful co-existence, yaitu hidup berdampingan secara damai antar Negara-negara dengan system politik, sosial, ekonomi yang berbeda adalah yang paling baik dan paling selamat dalam konstelasi imbangan kekuatan dunia sekarang. Prinsip “peaceful co-existence” ini adalah inti-pokok dari Semangat Bandung.

Dalam hubungan ini saya teringatkepada pengalaman saya di PBB pada bulan November, 11 tahun yang lalu. Persisnya pada hari rebo tanggal 19 November tahun 1969. Hari itu Majelis Umum PBB sedang membicarakan masalah Irian Barat, kini bernama Irian Jaya, judukl acaranya adalah : “Agreement between the Republic of Indonesia and the Kingdom of Netherlands concerning West New Guinea (West Irian)”, ditambah di bawahnya: “Report of the Secretary General regarding the act of self-determination in West Irian”.

Pembaca tentu masih ingat apa yang menjadi pokok persoalan pada waktu itu. Yakni hasil Perpera di Irian Barat pada pertengahan tahun 1969 disaksikan oleh wakil-wakil Sekjen PBB, dengan hasil mutlak bahwa rakyat Irian Barat menyatakan tetap bergabung dalam Republik Indonesia sesuai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Apa yang diminta oleh pihak Indonesia dan belanda adalah supaya hasil Perpera itu di take-note, dicatat dan diketahui oleh PBB. Lain tidak! Dengan begitu PBB secara resmi akan menyaksikan habisnya konflik yang bertahun-tahun antara Indonesia dan Belanda mengenai Irian Barat ini.

Perhitungan dan dugaan kita semula pembicaraan akan berjalan lancer, sekalipun di sana-sini, terutama dari sementara Negara Afrika Selatan Sahara terdengar kritik terhadap cara Perpera dijalankan oleh Indonesia. Karena sebelum perdebatan itu rombongan Menlu Adam Malik telah mengunjungi beberapa Negara Afrika, maka perkiraan kita semuanya akan beres.

Apa yang terjadi?

Wakil Ghana, Duta Besar Akwei dengan didukung oleh sejumlah 30 negara, kebanyakan dari Afrika tengah di kawasan Selatan Sahara mengusulkan supaya perdebatan ditunda untuk waktu tak tertentu dan supaya kepada rakyat Irian Barat diberi waktu sampai akhir tahun 1975 (jadi 6 tahun lagi dihitung dari tahun 1969) untuk menyatakan pendapatnya: apakah memang benar-benar mereka mau bergabung dengan RI: atau ingin merdeka sendiri sesuai dengan tuntutan Gerakan Papua Merdeka: ataukah bersama-sama dengan Irian Timur mendirikan Negara merdeka “Melanesia”.

Alas an Wakil Ghana ialah bahwa Perpera telah dijalankan secara pakasaan oleh bayonet TNI, karenanya tidak jujur demokratis. Pada pokoknya Ghana menuduh Indonesia menjalankan semacam “kolonialisme” baru di Irian Barat. Usul Ghana ini jelas akan memberikan angin kepada gerakan separatisme, dan akan membahayakan posisi Indonesia!

Latar belakang dari aksi Ghana dan kawan-kawannya ini adalah kekhawatiran dan ketakutan bahwa prinsif “musyawarah dan mufakat” dari Perpera ini, dan yang meninggalkan cara one man, one vote (tiap orang satu suara)akan dioper oleh pemerintahan-pemerintahan rasialis dan kolonialis kulit putih dari Afrika Selatan, Rhodesia dan Portugal dalam menghadapi gerakan-gerakan kemerdekaan di Namibia, Angola, Mozambik dan sebagainya. Secara implicit Indonesia disamakan dengan Afrika Selatan dan Portugal, yang rasialis dan kolonialis itu.

Motivasi khusu bagi Ghana adalah bahwa pemerintahannya yang baru ingin mempertontonkan kehebatannya dalam membela kulit-kulit hitam negroid di mana-mana, Rakyat irian Barat juga dianggapnya sebagai golongan Negroid. Pemerintah Ghana yang baru ingin menggunakannya sebagai semacam kompensasi mental terhadap dijatuhkannya Presiden Kwame Nkrumah yang di seluruh dunia dikenal sebagai seorang yang gigih anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Di tengah-tengah perdebatan yang menghangat tanggal 19 November 1969 itu, Ketua Delegasi Aljazair, Yazid namanya, menghampiri tempat duduk Delegasi Indonesia, dan berbisik kepada saya akan ikut bicara dan “melabrak” Wakil Ghana. Saya kenal Yazid baik sekali. Selama tahun 1953 sampai tahun 1960 Yazid bermukim di Jakarta, sebagai pelarian politik karena menentang mati-matian kolinialisme Perancis yang waktu itu masih menjajah Maroko, Aljazair, Tunisia dan sebagainya. Oleh Pemerintah kita pada waktu itu Yazid dan kawan-kawannya dari Aljazair lainnya, beserta Rhaseed Drees dan Bahrimi dari Tunisia (kedua pejuang ini kemudian duduk dalam pemerintahan Tunisia merdeka) diberi perlindungan dan status resmi di salah satu rumah resmi pula di Jalan Cik Ditiro. Sekalipun saya mengatakan pada Yazid, bahwa anggota Delegasi kita, yaitu Mr. Sudjarwo Tjondronegoro, akan menjawab tuduhan Ghana dan kawan-kawan itu semua, Yazid tetap maju ke mimbar mendahului kita.

Dengan bahasa Perancisnya yang faseh dan indah, Yazi berbicara selama 40 menit. Ia menjelaskan jalannya sejarah perjuangan rakyat Indonesia membebaskan Tanah Airnya termasuk Irian Barat. Dan dalam bagian akhir pidatonya dia menyinggung Konperensi dan Semangat Bandung. Inti pokoknya adalah kurang lebih sebagai berikut”

“Siapa yang menyamakan politik Indonesia terhadap Irian Barat dengan politik kaum rasialis di Afrika Selatan atau Portugal, mereka itu lupa akan Konperensi Bandung. Di Bandung pejuang-pejuang kemerdekaan seluruh Asia-Afrika dibela oleh Indonesia. Mereka diberi perlindungan. Ghana sendiri pada waktu itu belum merdeka penuh. Nama Ghana belum ada. Yang digunakan masih nama colonial, yaitu “Pantai Mas”, “The Goald Coast”. Namun tokoh merek diundang ke Bandung. Dan di Bandung sanalah Indonesia memainkan peranan yang menentukan dalam membela gerakan-gerakan kemerdekaan nasional di mana-mana, termasuk Ghana.”

Demikian cukilan beberapa kalimat dari pidato Yazid, masih dapat diperiksa dan dibaca kembali dari dokumen PBB bernomer UNGA A/PV. 1812 tanggal 19 November 1969 sidang rebo pagi.

Begitu besar pengaruh pidato yazid tersebut, sehingga mulai rontoklah pengikut-pengikut Ghana. Wakil-wakil Saudi Arabia, Iran, Kuwait, India, Muangthai, Filipina, Malaysia dan lain-lain lagi mengeluarkan pendapat yang senada dengan wakil Aljazair.

Jiwa Bandung berkumandang kembali!

Inilah kesan umum dari semua yang pada waktu itu mengikuti perdebatan terakhir tentang Irian Barat di forum PBB, termasuk tiga orang anggota DPR kita yang menjadi Penasehat Delegasi RI, yaitu saudara Domo (almarhum), Drs. Gede Djaksa dan Eddy Abdulmanaf.

Dan pada waktu rebo malam hari sekira pukul 19.30 dimulai dengan pungutan suara yang final, maka pengikut-pengikut Ghana dan penentang Indonesia mundur teratur berkat masuknya jiwa Bandung. Tidak ada satu diantara mereka berani mengeluarkan suara “anti”, paling banter “abstain”.

Dokumen PBB Nomor UNGA A/PV. 1803 tertanggal 19 November 1969 sidang malam hari mengkonstatir, bahwa seluruh resolusi untuk men-take-note perjanjian Indonesia-Belanda tentang hasil Perpera di Irian Barat itu “adopted by 84 votes to none, with 30 abstentions, artinya hasil Perpera itu diterima baik dengan 84 suara pro, kontra nihil, dengan 30 suara abstain. Katakanlah bahwa semangat Bandung itu sudah mati! Dan sewaktu saya pada tahun 1977 sebagai konsultan UNESCO mengadakan pembicaraan dengan Direktur Jendral-nya    yaitu Amadou-Mahtar M’bow, di Paris, maka beliau menggunakan kesempatan itu untuk meminta kepada saya segala keterangan mengenai latar belakang serta jalannya Konperensi A- A dulu itu. Kata beliau, Semangat Bandung itu masih sangat diperlukan. Apalagi untuk benua Afrika. Beliau sendiri berasal dari Senegal, yang pada waktu tahun 1955 masih belum merdeka. Tetapi pergerakan Kemerdekaan di Senegal diilhami juga oleh Semangat Bandung itu. Malahan dalam kedudukan beliau sekarang ini, selaku Direktur Jenderal UNESCO, beliau merasakan semangat itu masih hidup di mana-mana. Beliau meminta juga kepada saya segala pidato-pidato para tokoh dan pesertanya, baik dalam siding-sidang terbuka, maupun dalam siding-sidang tertutup dari Konperensi A-A Bandung itu. Terutama pidato pembukaan Bung Karno. Sebab, kata beliau, semua itu adalah pemikiran-pemikiran Asia dan Afrika, yang “non Europian”, tidak “anti Europian”. Dan yang mempunyai “lasting values”; yaitu nilai-nilai abadi! Semua yang dimintanya itu kemudian saya penuhi.

Katakanlah bahwa Semangat Bandung itu sudah mati !

Dan akhirnya menjelang KTT Non-Blok ke VI di Havana pada bulan September 1979, sewaktu terasa perlunya pemurnian kembali gerakan Non-Blok, yang rupanya ada yang mau menyelewengkan, maka banyak pihak yang mempelajari kembali jiwa dan Semangat Bandung gulu itu. Dan kemudian diakui, bahwa sukses KTT Non-Blok di Havana itu justru karena Semangat Bandung itu dapat dipelihara terus, di tengah-tengah tarikan dan desakan, baik dari kanan maupun dari kiri, terhadap gerakan Non-Blok itu. Semangat Bandunglah yang berdaya memurnikan jiwa gerakan Non-Blok di Havana.

Sekali lagi, katakanlah bahwa Semangat Bandung itu sudah mati !!!


Sumber: "The Bandung Connection", Dr.H.Roeslan Abdulgani.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar