Like This, Oke !!

Bewara

Hadirilah....
DISKUSI KEBANGSAAN JILID II "Momentum Hari Pahlawan, Upaya Membangun Bandung Berdikari"
Pembicara :
1. Drs. H. Asep Dedy Ruyadi, M.Si (Wakil Ketua DPRD KOTA BANDUNG)
2. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si (Ketua DPD KNPI KOTA BANDUNG)
3. Ust. Iman Setiawan Latief, SH (Ketua PD PERSIS KOTA BANDUNG)
4. Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Kota Bandung
Jum'at, 16 November 2012
13.00-selesai
@AULA PP PERSIS (Jl. Perintis Kemerdekaan)

Graties dan terbuka untuk umum!!

KOpi gratis, Snack Gratis, dll

Organized BY
PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG
CP:085721502422

Rabu, 23 November 2011

Menumbuhkan Semangat Revolusioner


oleh: Ridwan Rustansi*


“Perubahan Tidak akan terjadi tanpa adanya revolusi Dinamis”


-Riri Ari Mori-

MOMENTUM Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November menjadi daya tarik tersendiri untuk merunut kembali perjuangan para pahlawan bangsa dalam menegakkan kedamaian di Bumi Pertiwi. 

Satu hal yang harus diingat oleh para generasi bangsa ialah bagaimana kita menyikapi makna Hari Pahlawan ini sebagai upaya untuk meneruskan cita-cita bangsa yang telah lebih dulu diukir oleh para pendahulu kita.  Bukan harapan semu dalam memperingati Hari Pahlawan secara seremonial belaka lantas tak ada nilai esensial berarti, melainkan bagaimana menumbuhkan kesadaran dalam mewujudkan kehidupan yang lebih nyaman di tengah karut marut kondisi bangsa ini. 



Saat ini, semangat perubahan senantiasa digembor-gemborkan di segenap penjuru nusantara. Bukan karena Indonesia belum merdeka, bukan pula karena kondisi kita masih terjajah, melainkan semangat tersebut muncul sebagai wujud dari akumulasi kekecewaan rakyat Indonesia atas matinya kesadaran berbangsa dan bertanah air dari para pengemban amanat pemerintahan. 

Faktanya, 66 tahun sudah bangsa kita merdeka, namun kesejahteraan tak kunjung datang. Kemiskinan meningkat, kebodohan tak terpinggirkan, kesehatan semakin susah didapat, terlebih rasa kepedulian terhadap bangsa dan negara telah hilang. 

Di satu sisi, pemerintah bangga dengan pencapaian-pencapaiannya dalam memajukan bangsa ini, namun hal itu hanya angin lalu. Hitam di atas putih tanpa ada kebangkitan dan perubahan yang berarti. Di lain pihak, hati kita tergerus melihat kesengsaraan yang semakin meningkat. 

Kondisi bangsa ini semakin terpuruk di tengah kepentingan politis yang pada akhirnya mengesampingkan substansi kebangsaan, nilai moral perjuangan bangsa. Kiranya benar apa yang diungkapkan Ibnu Khaldun bahwa kedaulatan yang tercapai pada akhirnya hanya mendatangkan kesengsaraan bagi mereka yang tak bernilai. 

Pertanyaannya, akankah kita membiarkan keadaan ini? Menutup telinga dan mata kita akan realitas seperti ini? Melangkah dengan gegap gempita lantas berlalu tak hiraukan sekitar? Tentunya, sebagai generasi pembaharu, kita tak mau membiarkan begitu saja keruntuhan yang menimpa Bumi Pertiwi. Terpenting yang harus kita sadari ialah bagaimana agar senantiasa menumbuhkan semangat pemberontakan, semangat revolusioner anti kemapanan yang mengorbankan banyak pihak.

Melibas Api Sejarah yang Semu

Dalam catatan narasi sejarah bangsa Indonesia telah terukir, bagaimana daya juang yang diperlihatkan sosok Bung Tomo dan para pahlawan lainnya dalam merenggut kemerdekaan bangsa. Dengan lantang para pemuda bangsa mengepalkan tangan ke muka dan berani melawan kaum penjajah demi mempertahankan martabat bangsa Indonesia. Mereka rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk satu kepentingan bersama, kemerdekaan Bangsa Indonesia.  

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan  sebuah mental yang kuat, pantang menyerah dan tak kenal putus asa. Tentunya, perubahan tidak akan terjadi tanpa diiringi oleh semangat revolusi bersama yang diikat oleh satu kepentingan bersama, Indonesia Jaya. Indonesia yang terbebas dari penjajahan, merdeka dari kebodohan, bebas dari ketertindasan, dan berani memerangi ketidakadilan.

Dan semangat perubahan itu haruslah diawali dari gerak langkah para pemuda yang senantiasa peduli terhadap keadaan bangsa, melibas api sejarah bangsa yang semu. Keberanian dan tekad kuat yang dimiliki para pemuda menjadi nilai lebih dalam mengisi kemerdekaan ini. Mencapai perbaikan bangsa dari ketertindasan dan keterpurukan yang tengah menimpa.  
Cukup kiranya rakyat Indonesia menelan kekecewaan narasi sejarah kita. Sebuah catatan pinggiran yang mengesampingkan nilai-nilai perjuangan semu. Kemerdekaan yang diisi oleh sebuah kepentingan politis sesaat dan cenderung mengesampingkan  moralitas perjuangan bangsa. 

Sudah saatnya, generasi muda bangsa ini membuktikan pada rakyat Indonesia bahwa kesadaran berbangsa tidak hanya dimiliki para pengerdil perjuangan pahlawan kita. Namun, angkatan muda harus berani menantang, membuktikan satu kebulatan tekad untuk kejayaan Indonesia. Bravo Indonesiaku!!!

Saatnya Melawan


Sikap hidup yang mengutamakan kebersamaan di atas segala kepentingan pribadi dan golongan merupakan nilai historis bangsa ini. Sejarah mencatat segenap perjuangan bangsa yang didasari sikap memiliki dan persatuan serta kesatuan bangsa. Melihat hal sekitar yang terpuruk di tengah rasa apatis dalam menyikapi kemerdekaan bangsa adalah sebuah keharusan untuk mewujudkan kemerdekaan yang azasi bagi bangsa Indonesia. Kita melihat bagaimana nilai-nilai moral yang diperjuangkan untuk melawan segenap penjajahan dunia. Banyak tugas yang harus kita selesaikan. Saatnya bangkit berdiri, melawan setiap bentuk ketidakadilan di bumi pertiwi.

*Ridwan Rustandi
- Ketua Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam, Komisariat UIN Bandung
- Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung
- Kadiv Pengembangan Pemuda LPIK UIN SGD Bandung(//rfa)


Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/11/11/95/527981/menumbuhkan-semangat-revolusioner

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar